Kajian ROHAH FATHUL MU’IN rutinitas malam rabu melestarikan tradisi pesantren

📖 ROHAH FATHUL MU’IN Morombuh: Menghidupkan Tradisi Kajian Keislaman di Tengah Masyarakat

 

BANGKALAN — Di tengah kehidupan masyarakat yang terus berkembang, semangat untuk memperdalam pemahaman agama terus dijaga melalui Kajian Rutin ROHAH FATHUL MU’IN yang digelar di Desa Morombuh, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan.

 

Kajian tersebut dilaksanakan secara rutin setiap malam Rabu, dengan tempat pelaksanaan yang bergiliran. Konsep tersebut membuat kegiatan tidak hanya terpusat di satu lokasi, tetapi menjadi ruang silaturahmi sekaligus pembelajaran bagi masyarakat.

 

Menariknya, kajian ROHAH FATHUL MU’IN terbuka untuk umum. Pesertanya tidak hanya berasal dari Desa Morombuh maupun Kecamatan Kwanyar, tetapi juga diikuti oleh masyarakat dari luar Kecamatan Kwanyar yang ingin ikut berdiskusi dan memperdalam wawasan keislaman.

 

Dalam pelaksanaannya, kajian menggunakan metode dialektika, dengan pola pembahasan yang memiliki kemiripan dengan tradisi bahtsul masail di pesantren. Berbagai persoalan keagamaan dibahas melalui proses diskusi, penyampaian pendapat, serta pencarian pemahaman terhadap hukum Islam.

 

Suasana kajian pun dikemas secara santai, terbuka, dan penuh keakraban. Peserta tidak hanya duduk mendengarkan, tetapi turut terlibat dalam diskusi untuk memahami suatu persoalan dari berbagai sudut pandang keilmuan.

 

Bagi para peserta, metode seperti ini menjadi ruang untuk belajar agama secara lebih aktif. Perbedaan pandangan tidak menjadi sekat, melainkan bagian dari proses belajar untuk menemukan pemahaman yang lebih mendalam.

 

ROHAH FATHUL MU’IN diharapkan dapat terus menjadi ruang tumbuhnya tradisi intelektual keislaman di tengah masyarakat, sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga dan para pencinta kajian Islam, baik dari Kwanyar maupun dari berbagai daerah di sekitarnya.

 

Dari sebuah pertemuan sederhana setiap malam Rabu, tumbuh ruang diskusi yang menghidupkan tradisi keilmuan—membaca, bertanya, berdialektika, dan bersama-sama memahami agama.

Penulis: Ali wafa kwanyarEditor: MA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *