Mengapa Gus Imjaz Harus Masuk di Struktural PBNU

Bhindereh Ahrori Dhofir (Penulis)

Penulis : Ahrori Dhofir*

SAKERA.NEWS – Muktamar ke 35 telah selesai dilaksanakan. Pesantren Tambak Beras telah sukses melaksanakan helatan akbar di tubuh Nahdlatul Ulama. Presiden Prabowo dua kali datang; Membuka dan menutup Muktamar. Istimewa.

Adalah Gus Ipul, sosok ketua panitia dibalik suksesnya acara tersebut. Dengan segala dinamikanya Muktamar berjalan mulus dan sesuai dengan jadwal pelakasanaan.

Dari Muktamar tersebut mengahasilkan pengurus dengan Rais Aam Kiai Miftahul Akhyar dan ketua Umum Gus Kikin. Diharap kedua sosok mamdataris Muktamar ini mampu membawa Nahdlatul Ulama sesuai dengan cita cita awal didirikanya sebagai Jamiyah Ijtimaiyah dengan menjunjung nilai nilai keagamaan dan sosial serta _ngopene_. Pesantren sebagai lembaga khas NU.

Untuk itu, kiranya Rais Aam dan Ketua umum PBNU terpilih dapat mengakomodir bebepara potensi personal pengasuh pesantren yang dinilai mampu serta ada waktu untuk berkontribusi terhadap program Nahdlatul ulama terutama di bidang pengembangan pondok pesantren.

Dalam konteks ini, Kiai Imam Jazuli atau lebih dikenal dengan panggilan Gus Imjaz sangat layak untuk dimasukan dalam jajaran ketua PBNU. Beliau merupakan pengasuh pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon. Mengapa demikian?

Ada tiga alasan, mengapa Gus Imjaz harus ada dalam ruangan struktural PBNU?

Pertema, Gus Imjaz merupakan Alumni pesantren tulen. Sangat tahu dan paham betul terhadap dunia pesantren. Sehingga semaksimal mungkin dapat membaca dan mencerna dari plus-minus pesantren terutama menghadapi tantangn global saat ini.
Perpaduan pola pesantren salaf dan modern melakat pada sosok Gus Imjaz. Sehingga dengan akulturasi budaya, Gus Imjaz mampu menyatukan pola pesantren tanpa menghilangkan ruh pesantren itu sendiri.

Kedua, Gus Imjaz merupakan pengasuh pesantren BIMA, dengan ribuan santri. Ada Bima I sampai Bima III. Ribuan santri ini tentu berbeda- beda latar belakangnya. Pesantren tersebut sudah Gos Nasional. Dengan pola dan sitem kekinian, pesantren BIMA mampu mencetak ouput handal dengan kontribusi konkrit terhadap bangsa indonesia.

Selain itu, belakangan Gus Imjaz sangat getol mengadakan pendampingan terhadap pengasuh pesantren. Mulai dari Warkshop dan beberapa program sosial lainnya. Hal itu dilakukan Untuk meningkatkan kualitas pondok pesantren baik secara fisik dan mental dalam menghadapi tantangan zaman.

Kerena tidak cukup hanya bermodalkan kharismatik ansich dalam pengembangan pondok pesantren. Stretegi dan pola pesantren yang sesuai dengan perkembangan zaman harus menjadi perhatian serius untuk eksisnya pesantren dari masa ke masa. Dan, hal itu sudah dilakukan oleh Gus Imjaz dengan Bina Insan Mulia. Ditengah Tusnami buliy terhadap pondok pesantren, saatnya Nahdlatu Ulama memberi pendampingan secara komprenhesif. Dan hal itu harus dieksekusi oleh sosok yang tepat dalam bidangnya. Sehingga problem pesantren dapat teratasi dengan tepat dan terarah.

Ketiga, Gus Imjaz adalah tipikal Kiai yang tidak hanya selesai dengan dirinya sendiri. Akan tetapi bisa menyelesaikan orang lain. Atau lebih konkritnya, Gus Imjaz bukan hanya selesai dalam tatanan teori dan retorika. Melainkan dengan berbagai support dan akses yang dibutuhkan oleh pesantren akan diberikan oleh beliau. Karena jika hanya fokus pada pelatihan dan pelatihan tanpa ada follow up maka akan menjadi misi tak berarti

Poin ketiga inilah harus melekat pada sosok pimpinan. Sehingga totalitas pengabdian tidak bergeser dan menoleh ke kanan dan kiri. Disnilah bentuk pengabdian dipertaruhkan.

Oleh karena itu, dengan berbekal pengalaman dan loyalitas Gus Imjaz terhadap Jaimyah Nahdlatu Ulama, tidak berlebihan kalau pada gilirannya, Gus Imjaz diberi kesempatan untuk mewakafkan dirinya untuk kemaslahatan Jamiyah NU. Memperbaiki tatanan pesantren dengan sistem dan pengalaman yang telah dilakukan. Karena Haqqul yakin, yang ada dalam pikiran dan benak Sosok Gus Imjaz hanyalah; bagaimana dirinya bisa memberi kontribusi kepada Jamiyah Nahdaltu Ulama sebagai warisan para wali. Bukan yang lain.
Bismillah, monggo Gus, njennegan berkhidmat untuk umat lebih luas lagi melalui jalur struktural NU.

 

Bangkalan 24 Rabiuts Tsani 1448/ 6 september 2026

*Penulis Merupakan:

– Wakil sekretaris PCNU Bangkalan
– Sekjen FORBHINU (Forum Bhindereh Nusantara)
– Pengasuh Yayasan Raudaltul Ulum
– Inisiator SUBRO (Soliditas ulama bersama Prabowo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *