BANGKALAN | Sakera.News Dunia pendidikan di Kabupaten Bangkalan kembali dibuat resah oleh dugaan ulah oknum yang mengatasnamakan profesi wartawan. Seorang berinisial M, yang disebut mengaku sebagai wartawan, diduga menekan sejumlah kepala sekolah dengan membawa ancaman pemberitaan dan publikasi di media sosial.
Dugaan tersebut mencuat setelah adanya informasi bahwa seorang kepala sekolah disebut diminta menyerahkan sejumlah uang agar persoalan yang dibawa oknum tersebut tidak berlanjut menjadi pemberitaan.
Nilainya pun disebut cukup fantastis. Berdasarkan informasi yang diterima, permintaan uang tersebut bahkan disebut mencapai Rp5 juta.
Sumber yang mengetahui persoalan itu mengungkapkan, tekanan diduga dilakukan dengan membuat pihak sekolah berada dalam situasi ketakutan. Ancaman akan memberitakan atau memviralkan suatu persoalan disebut menjadi salah satu cara yang digunakan untuk menekan korban.
“Informasinya ada kepala sekolah yang diminta uang. Kalau tidak memberikan, takutnya nanti diberitakan atau diviralkan. Nilainya ada yang disebut sampai Rp5 juta,” ungkap sumber.
Yang menjadi perhatian, menurut sumber, pihak sekolah disebut tidak hanya menghadapi pertanyaan atau permintaan klarifikasi terkait suatu persoalan, tetapi juga merasa berada di bawah tekanan untuk memenuhi permintaan tertentu.
Bagi kalangan pendidikan, situasi seperti ini tentu menimbulkan keresahan. Sebab, pemberitaan seharusnya menjadi bagian dari fungsi kontrol sosial, bukan menjadi alat untuk menakut-nakuti atau menekan seseorang.
Apabila memang ditemukan dugaan pelanggaran di lingkungan sekolah, wartawan memiliki ruang untuk melakukan penelusuran. Namun, informasi tersebut tetap semestinya diverifikasi dan pihak yang diberitakan diberikan kesempatan untuk memberikan klarifikasi.
“Kalau memang sekolah melakukan kesalahan, silakan diberitakan. Tetapi jangan menggunakan berita sebagai ancaman untuk meminta uang,” ujar sumber.
Lebih jauh, sumber menyebut terdapat pihak sekolah yang diduga akhirnya menyerahkan sejumlah uang karena merasa khawatir persoalan tersebut akan dipublikasikan.
Ia menilai, jika dugaan tersebut benar, maka persoalannya tidak lagi sebatas hubungan antara wartawan dan narasumber. Ada dugaan tindakan yang perlu diuji secara hukum apabila permintaan uang tersebut disertai ancaman atau tekanan.
“Kalau memang ada bukti transfer, percakapan, rekaman atau saksi, sebaiknya semuanya disimpan. Itu bisa menjadi petunjuk untuk mengungkap kejadian sebenarnya,” katanya.
Sumber juga mengingatkan agar para kepala sekolah yang merasa mengalami tekanan tidak langsung memilih jalan pembayaran. Mereka diharapkan menyimpan seluruh bukti komunikasi dan melaporkan persoalan tersebut kepada pihak yang berwenang apabila memang terdapat dugaan tindak pidana.
Di sisi lain, dugaan ulah oknum tersebut diharapkan tidak membuat masyarakat memandang negatif seluruh profesi wartawan. Sebab, wartawan yang bekerja secara profesional tetap memiliki fungsi penting dalam mengawasi jalannya pemerintahan dan pelayanan publik.
“Jangan sampai karena ulah oknum, nama wartawan dan media menjadi tercoreng. Pers harus tetap menjadi kontrol sosial, bukan alat untuk menekan,” tegasnya.
Publik kini menunggu kejelasan mengenai dugaan tersebut. Apakah benar terdapat permintaan uang disertai ancaman pemberitaan, atau terdapat fakta lain yang belum terungkap, tentu harus dibuktikan melalui keterangan para pihak dan bukti yang ada.
Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi M maupun pihak sekolah yang disebut dalam informasi ini. Setiap pihak yang merasa dirugikan dipersilakan memberikan penjelasan untuk menjaga pemberitaan tetap berimbang.(Team/Red)












