KH. Muhammad Ali Cholil Dianggap Layak Masuk Sebagai Tim AHWA Muktamar NU Ke-35

KH. Muhammad Ali Cholil (Rais Syuriah PWNU Kaltim)

SAMARINDA | Sakera.News

Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026, nama KH. Muhammad Ali Cholil mencuat sebagai salah satu ulama yang dinilai memiliki kapasitas untuk menjadi anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

KH. Muhammad Ali Cholil merupakan cicit Maha Guru Muassis Nahdlatul Ulama, Syaikhona Kholil Bangkalan. Selain memiliki garis keturunan ulama pendiri NU, beliau juga dikenal sebagai tokoh NU di Kalimantan Timur yang aktif dalam dakwah, pendidikan, dan penguatan organisasi.

Selama dua periode mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah PWNU Kalimantan Timur, KH. Muhammad Ali Cholil aktif melakukan safari dakwah sekaligus memperkuat konsolidasi organisasi hingga ke berbagai daerah. Kegiatan tersebut mencakup pembinaan kepengurusan NU di tingkat cabang maupun ranting, termasuk di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat perkotaan.

Dalam bidang pemberdayaan santri, beliau dikenal sebagai penggagas KONSAIN (Kontak Santri Agribisnis Indonesia) serta pencetus IHSAN (Ikatan Himpunan Santri Nusantara). Sementara di bidang pendidikan, KH. Muhammad Ali Cholil mendirikan sekaligus mengasuh Pondok Pesantren Syaikhona Cholil Kalimantan Timur sebagai pusat pendidikan dan pembinaan kader santri.

Sejumlah gagasan yang diinisiasinya juga disebut menjadi bagian dari upaya memperkuat tradisi Nahdlatul Ulama. Di antaranya adalah prosesi penyerahan tasbih dan tongkat pada setiap pengukuhan pengurus NU di berbagai tingkatan, serta penyelenggaraan napak tilas sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama sebagai bentuk penguatan nilai-nilai perjuangan para muassis.

Atas rekam jejak pengabdian tersebut, KH. Muhammad Ali Cholil dinilai memiliki pengalaman, kapasitas keilmuan, dan dedikasi yang sejalan dengan tugas anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Sosoknya pun menjadi salah satu nama yang mulai diperbincangkan menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke-35.

Semangat pengabdiannya kepada Nahdlatul Ulama tercermin dalam pesan yang kerap beliau sampaikan, “Berjuang untuk NU adalah jalan pengabdian, menata umat, membangun peradaban.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *